Cast :
Park Jung Min (SS501)
Woori (Rainbow)
Jung Nicole (KARA)
Jung jiyeon (T-ARA)
Nb : Marga Jiyeon diubah untuk kepentingan peran dalam FF ini.
Rating : General.
---
“Sial, ini sudah yang ketiga kalinya dalam minggu ini kau berselingkuh. Dan lagi-lagi selalu meminta aku untuk memafkanmu. Hellooo, mungkin selama ini aku terlalu tolol dan dungu masih mau menerima permintaan maaf darimu. Dalam setahun sudah berapa kali aku kau buat menangis. Sudah berapa kali aku bilang kalau kau memang tidak bisa terlepas dari banyak gadis maka carilah gadis lain yang dengan tulus ikhlas mau selalu untuk diduakan, ditigakan, disepuluhkan dan seterusnya. Tapi kenapa kau tidak pernah mau melepaskanku? Selalu memohon seperti pengemis seolah-olah tanpa aku kau akan hancur. Tapi kenapa kau selalu menghancurkan aku? Awalnya aku masih bisa selalu menyisihkan ruang maaf untukmu, tapi tidak untuk sekarang. Entah ini puluh ke berapa aku memergokimu berselingkuh, belum lagi yang yang tidak diketahui olehku. Kau pikir hatiku ini apa? Seenaknya saja selalu menghancurkannya dan berharap utuh kembali hanya dengan setiap kata maaf yang kau lontarkan. Cukup sudah. Good bye Mr. Casanova.” Nicole menggerutu setelah untuk kesekian kalinya dia memergoki Jung Min kekasihnya kembali berselingkuh.
---
“Nicole, aku mohon...” Jung Min mengejar Nicole yang tidak mau lagi mendengarkan penjelasannya setelah terpergoknya dia berselingkuh dengan Gyuri.
Nicole memutus omongan Jung Min tanpa berhenti dan terus berjalan cepat. “Dengar dulu penjelaskanku? Ayolah Jung Min, aku sudah bosan mendengar kata-kata itu dari mulutmu. Variasikanlah caramu untuk memberikan alasan padaku.”
“Tolong berikan aku kesempatan.” Jung min masih merengek.
“Bwoo?” Nicole menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Jung Min. “Apakah kau tidak pernah mengenal istilah kesempatan kedua? Kesempatan-kesempatan yang aku berikan padamu bahkan sudah lebih puluhan kesempatan.” Nicole kembali melanjutkan langkahnya.
“Aku hanya mencintaimu seorang Nicole-ahh.”
“Ara, aku tahu itu. Kau juga hanya mencintai Gyuri, Hara, Dasom dan seterusnya. Kau mencintai semuanya! Dan aku sudah lelah dengan semua ini.”
“Nicole, aku ben-..”
“Temui aku lagi setelah kau menemukan gadis yang bisa menerima dengan tulus ikhlas hobimu mencintai seluruh makhluk Tuhan yang berjenis kelamin perempuan.” Nicole segera masuk ke dalam taxi yang tadi telah dihentikannya.
“Ahh, Jeongmal.” Jung Min terduduk lemas di jalan sambil menjambak-jambak rambutnya dengan wajah yang sangat memelas.
*Jung Min POV*
Aku juga tidak tahu Nicole-ahh, aku sadar bukan hanya kau satu-satunya gadis yang aku cintai di dunia ini. Tapi aku juga sadar bahwa hanya kau satu-satunya gadis yang tidak bisa aku lepaskan. Aku juga tidak tahu, aku selalu senang bermain-main dengan wanita lain tapi percayalah aku selalu serius ketika bersamamu.
*END POV*
---
Woori segera menuju ke rak buku lain setelah dilihatnya kepala Jung Min yang menyembul dari balik pintu. Tapi ternyata Jung Min tetap bisa mengetahui keberadaan sahabatnya sejak SMP itu. Terjadilah aksi kejar-kejaran diantara mereka karena Woori yang selalu menghindar dan Jung Min yang selalu mengikuti Woori dari belakang.
“Stop!” Woori tiba-tiba berhenti. Jung Min hanya memasang tampang memelas.
“Kau tahu kan aku sedang bekerja? Aku bisa dipecat kalau ketahuan mengobrol di jam kerja.” Woori berkacak pinggang.
“Tapi kau harus benar-benar tahu berita ini.” Kata Jung Min lirih sambil bersandar di salah satu rak buku.
“Aku sudah tahu.”
“Jangan bohong.”
“Gosip tentang gadis seperti Nicole itu pasti akan cepat tersebar Park Jung Min.” Woori mengeluarkan ponsel dari kantong celananya dan memutar-mutarnya di depan wajah Jung Min.
“Lantas?”
“Kau memang pantas mendapatkannya!” Woori setengah berteriak dan mendorong Jung Min agar keluar dari toko buku tempat dia bekerja paruh waktu.
“Ya! Bagaimana bisa seperti itu!” Jung Min berteriak di luar toko tapi Woori hanya berpura-pura tidak dengar.
---
Woori tampak gugup berhadapan dengan Nicole yang pastinya sudah sadar atas utusan siapa ia datang menemuinya. Woori sadar apa yang dilakukannya ini salah. Tapi demi sahabatnya, Woori rela membenarkan apa yang sudah jelas-jelas salah.
“Woori-ahh, berhentilah membela sahabatmu itu. Aku sudah tidak punya ruang maaf lagi untuknya.” Nicole meletakkan buku yang dari tadi sedang dibacanya.
“Nee, aku tahu itu Nicole-ahh, tapi setidaknya hargailah usahanya saat ini, sepertinya dia benar-benar ingin berubah.” Woori menyodorkan sebuah buku pada Nicole. “Itu adalah daftar profil selingkuhan-selingkuhan Jung Min yang semalam telah diputuskannya. Dia benar-benar ingin hanya serius denganmu.”
Nicole menatap Woori sepintas dan menghela napas. “Perlu digarisbawahi kalau aku melakukan ini karena aku masih menghargai kau sebagai temanku Woori-ahh. Sekali saja dia melakukan kesalahan maka beakhirlah semuanya.” Setelah berkata seperti itu Nicole langsung berdiri dan keluar dari perpustakaan sambil membawa buku yang tadi diberikan oleh Woori.
“Jeongmal? Gomawo, Gomawo Nicole-ahh.” Teriak Woori sambil melambai-lambaikan tangannya karena Nicole yang sudah hampir menghilang di balik pintu. Hal itu membuatnya ditegur oleh penjaga perpustakaan dan hanya ditanggapi senyuman kecut oleh Woori.
“Aku sudah berkorban banyak demimu Park Jung Min. Berkorban itu tidak sesederhana yang kau pikirkan.” Desah Woori.
---
“Aigoo, aku sudah stres menghadapi si Jung Min itu. Sepertinya dia tidak akan pernah bisa berubah jika bukan kau yang mengubahnya Jiyeon.” Keluh Woori sambil memelintir kabel teleponnya.
“Hahaha, dia berulah lagi?” Jiyeon terkekeh mengejek mendengar keluhan Woori.
“Jelas! Dia memang selalu berulah. Beberapa hari yang lalu dia memutuskan semua pacar-pacarnya agar Nicole mau kembali lagi padanya. Tapi coba kau tebak, hanya dalam hitungan 2 x 24 jam, dia sudah berkencan dengan gadis lain. Betapa merasa bersalahnya aku pada Nicole.” Curhat Woori dengan sedikit ngotot.
Jiyeon diam sejenak. “Apa dengan kembalinya aku dia bisa berubah?” nada bicara Jiyeon sedikit lirih.
“Tentu!” jawab Woori bersemangat.
“Tapi, bukankah dia begini juga karena aku?”
Woori terdiam.
“Woori-ahh, dia tidak akan bisa memaafkan aku. Kau tahu kan betapa sakitnya perpisahan itu. Dan dia benci itu. Dia benci perpisahan. Dia benci terluka.” Suara Jiyeon sedikit bergetar.
“Arraso, semua orang benci situasi seperti itu. Tapi ini bukan perpisahan selamanya kan? Hanya sementara, bukankah kau bilang minggu depan kau akan kembali ke Korea?”
“Apakah kau pikir menyembuhkan luka itu mudah, eoh?”
“...”
“Kau yang membuat luka itu, berarti kau juga yang harus mengobatinya.” Woori segera memutuskan teleponnya. Dia merasa sedikit kesal dengan sikap Jiyeon. Bagaimanapun dia tahu bagaimana rasanya kehilangan. Sakit benar-benar sakit.
---
*Jung Min POV*
Setelah pergi kenapa datang lagi? Setelah mengucapkan kata perpisahan kenapa kembali lagi? Bukankah sudah berpisah, itu artinya telah berakhir. Lantas untuk apa lagi datang padaku? Ingin menertawakan keadaanku? Jangan berlagak sok tidak tahu, aku tidak pernah baik-baik saja sejak hari itu.
“Mianhee.” Lagi-lagi Jiyeon memecah keheningan, namun tetap saja aku hanya meresponnya dengan diam.
Aku menarik napas, berusaha mencari ketenangan dari hembusan napas yang aku keluarkan. “Mungkin inilah yang Nicole rasakan setiap kali aku meminta maaf padanya setelah ketahuan berselingkuh.” Akhirnya aku membuka mulut untuk bicara mesti tetap tidak mau menatap wajahnya.
“Mianhee.” Ucap Jiyeon lebih lirih lagi.
“Sebenarnya kau minta maaf untuk apa?” sindirku.
Jiyeon menegakkan kepalanya dan menatapku nanar. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Tapi memang bukan kata maaf yang aku inginkan darinya. Memangnya apa hebatnya kata maaf? Bahkan kata maaf yang banyak dielu-elukan makhluk melankolis itu sama sekali tidak bisa menyembuhkan luka hatiku. Aku hanya butuh, butuh, entahlah, aku juga ragu sebenarnya apa yang aku butuhkan dari penjelasannya.
“Apa kau mau kita bersama lagi?”
“Duaaar”. Setelah mendengar ucapan Jiyeon tersebut aku merasa dilanda tsunami lokal di dalam tubuhku. Aku tenggelam terbawa arus tsunami. Semua isi tubuhku serasa terpisah terbawa arus. Kalimat macam apa itu? Tapi apakah memang kata-kata itu yang aku inginkan keluar dari mulutnya?
“Jung Min-ahh.”
“...”
“Jung Min.”Jiyeon sedikit menguatkan suaranya.
“Bisa kau berikan aku alasan kenapa aku tidak bisa melepaskan Nicole?” aku mencari mata Jiyeon. Aku ingin menemukan sebuah jawaban dari matanya.
“Wae?” Jiyeon tampak terkejut. “Kenapa bertanya padaku? Yang punya alasan kan kau?” Jiyeon terlihat panik.
Aku tahu, dia tahu apa alasanku tidak bisa meninggalkan Nicole. Tentu, bagaimana mungkin dia tidak tahu. Ia hanya berusaha menyembunyikan kenyataan pahit. “Meskipun dia bukan kau, tapi selalu sosokmu yang aku lihat di dalam dirinya.” Sambungku lagi sambil mengalihkan pandanganku darinya.
Tiba-tiba Jiyeon menangis. Entah itu tangisan untuk apa. Aku sama sekali tidak menariknya ke dalam pelukanku seperti yang dilakukan di drama-drama romantis yang sering ditonton oleh Woori atau mungkin oleh seluruh wanita. Mungkin air mata sedih, merasa bersalah atau mungkin hanya untuk membuat hatiku luluh.
“Kau menyakiti semua orang karena aku?”
“Aku yakin kau sudah tahu jawaban dari setiap pertanyaan yang kau lontarkan. Jangan bertanya hal-hal bodoh yang bahkan kau lebih tahu pasti jawabannya, Ji, Jiyeon-ssi.” Aku yakin Jiyeon kaget mendengar panggilanku terhadapnya.
“Kalau begitu berhentilah untuk menyakiti. Berhenti beranggapan kalau ada aku di dalam diri Nicole. Meski kami kembar tapi kami berbeda. Aku ya aku, Nicole ya Nicole. Kami merupakan bagian yang terpisah. Berhenti mencoba mencari cinta baru, karena kini cintamu telah kembali Jung Min.”
“Eoh? Cinta yang telah kembali. Jangan bercanda Jiyeon. Kau meninggalkan aku dengan keji demi mengejar mimpimu. Kau bilang kau ingin fokus pada kuliahmu, kau bilang saat ini kau sedang tidak ingin menjalin hubungan dan hanya ingin fokus pada kuliahmu. Kau bilang lebih baik kita berpisah. Kau bilang sebaiknya aku mencari penggantimu. Kau bilang ada wanita di luar sana yang jauh lebih baik darimu. Kau bilang kalau aku akan baik-baik saja tanpamu. Kau bilang dunia tidak akan kiamat karena perpisahan kita. Apa kau lupa? Kau yang mengatakan itu semua. Aku hanya mencoba melaksanakan apa yang kau katakan. Aku hanya mengikuti semua yang kau bilang. Apa i-..”
“Jung Min! Hentikan. Aku tahu kau terluka, siapa yang bisa menerima perpisahan dengan lapang dada. Tapi kini aku telah kembali, untuk apa melihat masa lalu?”
“Apa perasaanmu masih sama seperti dulu?”
“...”
“Kenapa diam?”
“...”
“Aku ulangi, apa perasaanmu masih sama seperti dulu?”
“...”
“Sudah kuduga hanya kata maaf yang bisa kau berikan padaku. Jangan pikir aku tidak tahu, kau telah memiliki kekasih kan? Seorang teman sekampusmu di London sesama warga Korea.”
“Jung Min.” Jiyeon terlihat panik. Apanya yang telah kembali, bahkan dia telah memiliki kekasih.
“Harusnya aku yang minta padamu untuk berhenti menyakitiku. Selamanya perpisahan adalah sebuah akhir. Perpisahan selama 4 tahun ini memang sebuah akhir dari kisah kita. Lantas, tujuanmu menanyakan ‘apa aku mau kita bersama lagi’, ‘cintaku telah kembali’ hanya basa-basi saja kan? Atau kau mungkin ingin mengolok-olok perasaanku?”
“Bukan seperti itu maksudku.”
“Arasso, arasso. Aku tahu tujuanmu hanya minta maaf saja kan? Baiklah aku memaafkanmu. Berbahagialah kau dengan kekasih barumu si Hyung Joon.” Aku mencoba tersenyum. Pasti senyumku terlihat aneh. Bagaimana tidak, aku tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk wajahku yang benar-benar kusut tak karuan tiba-tiba harus menyunggingkan senyum pahit. Kalian pasti tahu seaneh apa bentuk wajahku tersebut. Aku beranjak dari dudukku dan menepuk-nepuk pundak Jiyeon.
“Gwenchana, aku memakluminya.” Memaklumi bukan berarti bisa menerimanya.
“Jung Min?” Jiyeon setengah berteriak melihat aku yang akan meninggalkannya.
“Bisakah kau mencoba berhenti menjadi Mr. Casanova?”
Aku menoleh lagi, menatap Jiyeon dan mencoba membuat senyuman yang terlihat lebih alamiah. “Pernahkah aku tidak menurutimu?, akan ku coba. Pai-pai.” Aku berbalik dan melambai-lambaikan tanganku tanpa melihatnya. Sejenak aku berpikir, sikap sok tegar itu memang terkadang terlihat bodoh. Apa kerennya bersikap sok tegar tapi ujung-ujungnya akan berakhir naas dipojokan kamar sambil meraung-raung, mengumpat-umpat keputusan yang telah diambil. Ya, aku akui 4 tahun lalu, saat jiyeon memutuskan perpisahan itu, aku memang bersikap labil seperti itu. Tapi sekarang? Mungkin aku harus mencari tempat lain untuk bisa seperti itu kalau tidak mau dianggap gila oleh tetanggaku. Kadang berat juga menjadi laki-laki yang memegang prinsip ‘air mata itu sangat pantang untuk dikeluarkan.” Well, hidup itu butuh air mata.
*END POV*
---
Woori masih terus menatap Jung Min tidak percaya. Masih belum bisa diterimanya kalau Jung Min memang benar-benar telah memutuskan hal tersebut. Sanksi jika harus mempercayai semua perkataan Jung Min. Jung Min yang sadar akan tatapan membunuh Woori langsung menghentikan makannya dan meletakkan sumpitnya di samping mangkuknya.
“Apa kau tidak bisa menerima perubahan Woori-ahh?”
Woori hanya diam, berusaha berpikir, apakah perubahan seperti ini benar-benar cocok untuk seorang Park Jung Min. Woori tahu betul sejak ditinggal oleh Jiyeon, Jung Min menjadi Mr. Casanova. “Jinjayo?”
“Ne, ne, ne. Kini aku sudah tobat. Tidak akan lagi menjadi casanova. Aku juga akan melepaskan Nicole, karena aku sadar kalau sebenarnya aku tidak mencintainya, aku hanya mencari sosok Jiyeon dalam dirinya. Dan mungkin suatu saat nanti, meskipun bukan sekarang aku bisa melupakan Jiyeon.”
“Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari Jiyeon.” Woori tersenyum dan menyeruput teh hijaunya.
---
*Jung Min POV*
Sadarkah kalian sebenarnya apa yang dicari oleh Mr.-Mr Casanova lainnya? Bukan untuk menyakiti kaum hawa, tapi hanya berusaha mencari yang terbaik untuk hidupnya dengan seleksi ketat. Begitu juga aku, aku hanya berusaha mencari yang terbaik sebagai pengganti jiyeon. Tapi ternyata banyak orang yang salah menilai tentang tipikal orang-orang yang sering berganti pasangan. Mungkin sudah saatnya aku berubah. Semakin aku berusaha mencari yang lebih baik dari Jiyeon justru aku makin terpuruk. Sudah saatnya aku mencari cinta baru dengan tidak menjadikan Jiyeon sebagai tolak ukurnnya. “Semua orang selalu ingin yang terbaik sebagai pendampingnya.” - Mr.Casanova.
*END POV*
---FIN---
Woori (Rainbow)
Jung Nicole (KARA)
Jung jiyeon (T-ARA)
Nb : Marga Jiyeon diubah untuk kepentingan peran dalam FF ini.
Rating : General.
---
“Sial, ini sudah yang ketiga kalinya dalam minggu ini kau berselingkuh. Dan lagi-lagi selalu meminta aku untuk memafkanmu. Hellooo, mungkin selama ini aku terlalu tolol dan dungu masih mau menerima permintaan maaf darimu. Dalam setahun sudah berapa kali aku kau buat menangis. Sudah berapa kali aku bilang kalau kau memang tidak bisa terlepas dari banyak gadis maka carilah gadis lain yang dengan tulus ikhlas mau selalu untuk diduakan, ditigakan, disepuluhkan dan seterusnya. Tapi kenapa kau tidak pernah mau melepaskanku? Selalu memohon seperti pengemis seolah-olah tanpa aku kau akan hancur. Tapi kenapa kau selalu menghancurkan aku? Awalnya aku masih bisa selalu menyisihkan ruang maaf untukmu, tapi tidak untuk sekarang. Entah ini puluh ke berapa aku memergokimu berselingkuh, belum lagi yang yang tidak diketahui olehku. Kau pikir hatiku ini apa? Seenaknya saja selalu menghancurkannya dan berharap utuh kembali hanya dengan setiap kata maaf yang kau lontarkan. Cukup sudah. Good bye Mr. Casanova.” Nicole menggerutu setelah untuk kesekian kalinya dia memergoki Jung Min kekasihnya kembali berselingkuh.
---
“Nicole, aku mohon...” Jung Min mengejar Nicole yang tidak mau lagi mendengarkan penjelasannya setelah terpergoknya dia berselingkuh dengan Gyuri.
Nicole memutus omongan Jung Min tanpa berhenti dan terus berjalan cepat. “Dengar dulu penjelaskanku? Ayolah Jung Min, aku sudah bosan mendengar kata-kata itu dari mulutmu. Variasikanlah caramu untuk memberikan alasan padaku.”
“Tolong berikan aku kesempatan.” Jung min masih merengek.
“Bwoo?” Nicole menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Jung Min. “Apakah kau tidak pernah mengenal istilah kesempatan kedua? Kesempatan-kesempatan yang aku berikan padamu bahkan sudah lebih puluhan kesempatan.” Nicole kembali melanjutkan langkahnya.
“Aku hanya mencintaimu seorang Nicole-ahh.”
“Ara, aku tahu itu. Kau juga hanya mencintai Gyuri, Hara, Dasom dan seterusnya. Kau mencintai semuanya! Dan aku sudah lelah dengan semua ini.”
“Nicole, aku ben-..”
“Temui aku lagi setelah kau menemukan gadis yang bisa menerima dengan tulus ikhlas hobimu mencintai seluruh makhluk Tuhan yang berjenis kelamin perempuan.” Nicole segera masuk ke dalam taxi yang tadi telah dihentikannya.
“Ahh, Jeongmal.” Jung Min terduduk lemas di jalan sambil menjambak-jambak rambutnya dengan wajah yang sangat memelas.
*Jung Min POV*
Aku juga tidak tahu Nicole-ahh, aku sadar bukan hanya kau satu-satunya gadis yang aku cintai di dunia ini. Tapi aku juga sadar bahwa hanya kau satu-satunya gadis yang tidak bisa aku lepaskan. Aku juga tidak tahu, aku selalu senang bermain-main dengan wanita lain tapi percayalah aku selalu serius ketika bersamamu.
*END POV*
---
Woori segera menuju ke rak buku lain setelah dilihatnya kepala Jung Min yang menyembul dari balik pintu. Tapi ternyata Jung Min tetap bisa mengetahui keberadaan sahabatnya sejak SMP itu. Terjadilah aksi kejar-kejaran diantara mereka karena Woori yang selalu menghindar dan Jung Min yang selalu mengikuti Woori dari belakang.
“Stop!” Woori tiba-tiba berhenti. Jung Min hanya memasang tampang memelas.
“Kau tahu kan aku sedang bekerja? Aku bisa dipecat kalau ketahuan mengobrol di jam kerja.” Woori berkacak pinggang.
“Tapi kau harus benar-benar tahu berita ini.” Kata Jung Min lirih sambil bersandar di salah satu rak buku.
“Aku sudah tahu.”
“Jangan bohong.”
“Gosip tentang gadis seperti Nicole itu pasti akan cepat tersebar Park Jung Min.” Woori mengeluarkan ponsel dari kantong celananya dan memutar-mutarnya di depan wajah Jung Min.
“Lantas?”
“Kau memang pantas mendapatkannya!” Woori setengah berteriak dan mendorong Jung Min agar keluar dari toko buku tempat dia bekerja paruh waktu.
“Ya! Bagaimana bisa seperti itu!” Jung Min berteriak di luar toko tapi Woori hanya berpura-pura tidak dengar.
---
Woori tampak gugup berhadapan dengan Nicole yang pastinya sudah sadar atas utusan siapa ia datang menemuinya. Woori sadar apa yang dilakukannya ini salah. Tapi demi sahabatnya, Woori rela membenarkan apa yang sudah jelas-jelas salah.
“Woori-ahh, berhentilah membela sahabatmu itu. Aku sudah tidak punya ruang maaf lagi untuknya.” Nicole meletakkan buku yang dari tadi sedang dibacanya.
“Nee, aku tahu itu Nicole-ahh, tapi setidaknya hargailah usahanya saat ini, sepertinya dia benar-benar ingin berubah.” Woori menyodorkan sebuah buku pada Nicole. “Itu adalah daftar profil selingkuhan-selingkuhan Jung Min yang semalam telah diputuskannya. Dia benar-benar ingin hanya serius denganmu.”
Nicole menatap Woori sepintas dan menghela napas. “Perlu digarisbawahi kalau aku melakukan ini karena aku masih menghargai kau sebagai temanku Woori-ahh. Sekali saja dia melakukan kesalahan maka beakhirlah semuanya.” Setelah berkata seperti itu Nicole langsung berdiri dan keluar dari perpustakaan sambil membawa buku yang tadi diberikan oleh Woori.
“Jeongmal? Gomawo, Gomawo Nicole-ahh.” Teriak Woori sambil melambai-lambaikan tangannya karena Nicole yang sudah hampir menghilang di balik pintu. Hal itu membuatnya ditegur oleh penjaga perpustakaan dan hanya ditanggapi senyuman kecut oleh Woori.
“Aku sudah berkorban banyak demimu Park Jung Min. Berkorban itu tidak sesederhana yang kau pikirkan.” Desah Woori.
---
“Aigoo, aku sudah stres menghadapi si Jung Min itu. Sepertinya dia tidak akan pernah bisa berubah jika bukan kau yang mengubahnya Jiyeon.” Keluh Woori sambil memelintir kabel teleponnya.
“Hahaha, dia berulah lagi?” Jiyeon terkekeh mengejek mendengar keluhan Woori.
“Jelas! Dia memang selalu berulah. Beberapa hari yang lalu dia memutuskan semua pacar-pacarnya agar Nicole mau kembali lagi padanya. Tapi coba kau tebak, hanya dalam hitungan 2 x 24 jam, dia sudah berkencan dengan gadis lain. Betapa merasa bersalahnya aku pada Nicole.” Curhat Woori dengan sedikit ngotot.
Jiyeon diam sejenak. “Apa dengan kembalinya aku dia bisa berubah?” nada bicara Jiyeon sedikit lirih.
“Tentu!” jawab Woori bersemangat.
“Tapi, bukankah dia begini juga karena aku?”
Woori terdiam.
“Woori-ahh, dia tidak akan bisa memaafkan aku. Kau tahu kan betapa sakitnya perpisahan itu. Dan dia benci itu. Dia benci perpisahan. Dia benci terluka.” Suara Jiyeon sedikit bergetar.
“Arraso, semua orang benci situasi seperti itu. Tapi ini bukan perpisahan selamanya kan? Hanya sementara, bukankah kau bilang minggu depan kau akan kembali ke Korea?”
“Apakah kau pikir menyembuhkan luka itu mudah, eoh?”
“...”
“Kau yang membuat luka itu, berarti kau juga yang harus mengobatinya.” Woori segera memutuskan teleponnya. Dia merasa sedikit kesal dengan sikap Jiyeon. Bagaimanapun dia tahu bagaimana rasanya kehilangan. Sakit benar-benar sakit.
---
*Jung Min POV*
Setelah pergi kenapa datang lagi? Setelah mengucapkan kata perpisahan kenapa kembali lagi? Bukankah sudah berpisah, itu artinya telah berakhir. Lantas untuk apa lagi datang padaku? Ingin menertawakan keadaanku? Jangan berlagak sok tidak tahu, aku tidak pernah baik-baik saja sejak hari itu.
“Mianhee.” Lagi-lagi Jiyeon memecah keheningan, namun tetap saja aku hanya meresponnya dengan diam.
Aku menarik napas, berusaha mencari ketenangan dari hembusan napas yang aku keluarkan. “Mungkin inilah yang Nicole rasakan setiap kali aku meminta maaf padanya setelah ketahuan berselingkuh.” Akhirnya aku membuka mulut untuk bicara mesti tetap tidak mau menatap wajahnya.
“Mianhee.” Ucap Jiyeon lebih lirih lagi.
“Sebenarnya kau minta maaf untuk apa?” sindirku.
Jiyeon menegakkan kepalanya dan menatapku nanar. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Tapi memang bukan kata maaf yang aku inginkan darinya. Memangnya apa hebatnya kata maaf? Bahkan kata maaf yang banyak dielu-elukan makhluk melankolis itu sama sekali tidak bisa menyembuhkan luka hatiku. Aku hanya butuh, butuh, entahlah, aku juga ragu sebenarnya apa yang aku butuhkan dari penjelasannya.
“Apa kau mau kita bersama lagi?”
“Duaaar”. Setelah mendengar ucapan Jiyeon tersebut aku merasa dilanda tsunami lokal di dalam tubuhku. Aku tenggelam terbawa arus tsunami. Semua isi tubuhku serasa terpisah terbawa arus. Kalimat macam apa itu? Tapi apakah memang kata-kata itu yang aku inginkan keluar dari mulutnya?
“Jung Min-ahh.”
“...”
“Jung Min.”Jiyeon sedikit menguatkan suaranya.
“Bisa kau berikan aku alasan kenapa aku tidak bisa melepaskan Nicole?” aku mencari mata Jiyeon. Aku ingin menemukan sebuah jawaban dari matanya.
“Wae?” Jiyeon tampak terkejut. “Kenapa bertanya padaku? Yang punya alasan kan kau?” Jiyeon terlihat panik.
Aku tahu, dia tahu apa alasanku tidak bisa meninggalkan Nicole. Tentu, bagaimana mungkin dia tidak tahu. Ia hanya berusaha menyembunyikan kenyataan pahit. “Meskipun dia bukan kau, tapi selalu sosokmu yang aku lihat di dalam dirinya.” Sambungku lagi sambil mengalihkan pandanganku darinya.
Tiba-tiba Jiyeon menangis. Entah itu tangisan untuk apa. Aku sama sekali tidak menariknya ke dalam pelukanku seperti yang dilakukan di drama-drama romantis yang sering ditonton oleh Woori atau mungkin oleh seluruh wanita. Mungkin air mata sedih, merasa bersalah atau mungkin hanya untuk membuat hatiku luluh.
“Kau menyakiti semua orang karena aku?”
“Aku yakin kau sudah tahu jawaban dari setiap pertanyaan yang kau lontarkan. Jangan bertanya hal-hal bodoh yang bahkan kau lebih tahu pasti jawabannya, Ji, Jiyeon-ssi.” Aku yakin Jiyeon kaget mendengar panggilanku terhadapnya.
“Kalau begitu berhentilah untuk menyakiti. Berhenti beranggapan kalau ada aku di dalam diri Nicole. Meski kami kembar tapi kami berbeda. Aku ya aku, Nicole ya Nicole. Kami merupakan bagian yang terpisah. Berhenti mencoba mencari cinta baru, karena kini cintamu telah kembali Jung Min.”
“Eoh? Cinta yang telah kembali. Jangan bercanda Jiyeon. Kau meninggalkan aku dengan keji demi mengejar mimpimu. Kau bilang kau ingin fokus pada kuliahmu, kau bilang saat ini kau sedang tidak ingin menjalin hubungan dan hanya ingin fokus pada kuliahmu. Kau bilang lebih baik kita berpisah. Kau bilang sebaiknya aku mencari penggantimu. Kau bilang ada wanita di luar sana yang jauh lebih baik darimu. Kau bilang kalau aku akan baik-baik saja tanpamu. Kau bilang dunia tidak akan kiamat karena perpisahan kita. Apa kau lupa? Kau yang mengatakan itu semua. Aku hanya mencoba melaksanakan apa yang kau katakan. Aku hanya mengikuti semua yang kau bilang. Apa i-..”
“Jung Min! Hentikan. Aku tahu kau terluka, siapa yang bisa menerima perpisahan dengan lapang dada. Tapi kini aku telah kembali, untuk apa melihat masa lalu?”
“Apa perasaanmu masih sama seperti dulu?”
“...”
“Kenapa diam?”
“...”
“Aku ulangi, apa perasaanmu masih sama seperti dulu?”
“...”
“Sudah kuduga hanya kata maaf yang bisa kau berikan padaku. Jangan pikir aku tidak tahu, kau telah memiliki kekasih kan? Seorang teman sekampusmu di London sesama warga Korea.”
“Jung Min.” Jiyeon terlihat panik. Apanya yang telah kembali, bahkan dia telah memiliki kekasih.
“Harusnya aku yang minta padamu untuk berhenti menyakitiku. Selamanya perpisahan adalah sebuah akhir. Perpisahan selama 4 tahun ini memang sebuah akhir dari kisah kita. Lantas, tujuanmu menanyakan ‘apa aku mau kita bersama lagi’, ‘cintaku telah kembali’ hanya basa-basi saja kan? Atau kau mungkin ingin mengolok-olok perasaanku?”
“Bukan seperti itu maksudku.”
“Arasso, arasso. Aku tahu tujuanmu hanya minta maaf saja kan? Baiklah aku memaafkanmu. Berbahagialah kau dengan kekasih barumu si Hyung Joon.” Aku mencoba tersenyum. Pasti senyumku terlihat aneh. Bagaimana tidak, aku tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk wajahku yang benar-benar kusut tak karuan tiba-tiba harus menyunggingkan senyum pahit. Kalian pasti tahu seaneh apa bentuk wajahku tersebut. Aku beranjak dari dudukku dan menepuk-nepuk pundak Jiyeon.
“Gwenchana, aku memakluminya.” Memaklumi bukan berarti bisa menerimanya.
“Jung Min?” Jiyeon setengah berteriak melihat aku yang akan meninggalkannya.
“Bisakah kau mencoba berhenti menjadi Mr. Casanova?”
Aku menoleh lagi, menatap Jiyeon dan mencoba membuat senyuman yang terlihat lebih alamiah. “Pernahkah aku tidak menurutimu?, akan ku coba. Pai-pai.” Aku berbalik dan melambai-lambaikan tanganku tanpa melihatnya. Sejenak aku berpikir, sikap sok tegar itu memang terkadang terlihat bodoh. Apa kerennya bersikap sok tegar tapi ujung-ujungnya akan berakhir naas dipojokan kamar sambil meraung-raung, mengumpat-umpat keputusan yang telah diambil. Ya, aku akui 4 tahun lalu, saat jiyeon memutuskan perpisahan itu, aku memang bersikap labil seperti itu. Tapi sekarang? Mungkin aku harus mencari tempat lain untuk bisa seperti itu kalau tidak mau dianggap gila oleh tetanggaku. Kadang berat juga menjadi laki-laki yang memegang prinsip ‘air mata itu sangat pantang untuk dikeluarkan.” Well, hidup itu butuh air mata.
*END POV*
---
Woori masih terus menatap Jung Min tidak percaya. Masih belum bisa diterimanya kalau Jung Min memang benar-benar telah memutuskan hal tersebut. Sanksi jika harus mempercayai semua perkataan Jung Min. Jung Min yang sadar akan tatapan membunuh Woori langsung menghentikan makannya dan meletakkan sumpitnya di samping mangkuknya.
“Apa kau tidak bisa menerima perubahan Woori-ahh?”
Woori hanya diam, berusaha berpikir, apakah perubahan seperti ini benar-benar cocok untuk seorang Park Jung Min. Woori tahu betul sejak ditinggal oleh Jiyeon, Jung Min menjadi Mr. Casanova. “Jinjayo?”
“Ne, ne, ne. Kini aku sudah tobat. Tidak akan lagi menjadi casanova. Aku juga akan melepaskan Nicole, karena aku sadar kalau sebenarnya aku tidak mencintainya, aku hanya mencari sosok Jiyeon dalam dirinya. Dan mungkin suatu saat nanti, meskipun bukan sekarang aku bisa melupakan Jiyeon.”
“Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari Jiyeon.” Woori tersenyum dan menyeruput teh hijaunya.
---
*Jung Min POV*
Sadarkah kalian sebenarnya apa yang dicari oleh Mr.-Mr Casanova lainnya? Bukan untuk menyakiti kaum hawa, tapi hanya berusaha mencari yang terbaik untuk hidupnya dengan seleksi ketat. Begitu juga aku, aku hanya berusaha mencari yang terbaik sebagai pengganti jiyeon. Tapi ternyata banyak orang yang salah menilai tentang tipikal orang-orang yang sering berganti pasangan. Mungkin sudah saatnya aku berubah. Semakin aku berusaha mencari yang lebih baik dari Jiyeon justru aku makin terpuruk. Sudah saatnya aku mencari cinta baru dengan tidak menjadikan Jiyeon sebagai tolak ukurnnya. “Semua orang selalu ingin yang terbaik sebagai pendampingnya.” - Mr.Casanova.
*END POV*
---FIN---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar